Tidak dapat dipungkiri bahwa e-commerce di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal tersebut ditandai dengan pertumbuhan pengguna teknologinya juga yang meningkat.
Menurut data statistik yang dikutip dari Datamaya.com, “Lebih dari 50% pengguna smartphone melihat smartphone mereka setidak-tidaknya 1x dalam 1 jam, dan lebih dari 10% darinya mengecek smartphone mereka setiap beberapa menit”, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa e-commerce bisa menjadi peluang yang menjanjikan.
Meski sebelumnya sempat menuai pro dan kontra mengingat banyaknya penipuan pada bisnis online, namun dari waktu ke waktu e-commerce pada akhirnya bisa diterima oleh masyarakat.
Lebih dari itu, tidak sedikit masyarakat justru menjadi pelanggan dari bisnis yang menggunakan internet. Saat ini bahkan banyak situs bisnis online yang tidak hanya resmi tetapi juga diiklankan di televisi. Ini tentunya menjadi bukti nyata bahwa e-commerce tidak hanya berkembang tetapi juga diterima oleh masyarakat dunia.
Lalu, untuk Indonesia sendiri, ada faktor faktor yang mendukung perkembangan e-commerce sebagai berikut :
1. Jumlah Penduduk Indonesia dan Karakter Konsumtif
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang padat. Dengan demikian kebutuhan masyarakat Indonesia akan toko tentu saja semakin bertambah. Apalagi, karakter masyarakat Indonesia itu sendiri terbilang konsumtif dalam berbelanja.
Dengan demikian, jumlah penduduk serta karakter masyarakat Indonesia yang konsumtif menjadi faktor pertama yang mendorong perkembangan e-commerce di Indonesia.
Apabila hal ini tidak segera disadari dengan cepat, lambat laun hal ini dapat merugikan diri sendiri karena tidak berfokus pada apa yang menjadi kebutuhan, tapi lebih mementingkan keinginan semata.
2. Bertambahnya Pengguna Smartphone dan Internet di Indonesia
Indonesia termasuk negara dengan jumlah pengguna internet yang cukup tinggi. Ini menjadi faktor lainnya yang mendorong perkembangan e-commerce di Indonesia. Apalagi, kemacetan di Indonesia akibat semakin banyaknya penduduk serta semakin banyaknya pengguna kendaraan pribadi pada akhirnya menjadikan masyarakat Indonesia khususnya pengguna internet untuk memilih berbelanja secara online.
Apalagi, pengguna smartphone di Indonesia semakin banyak saja. Ini tentunya semakin mempermudah masyarakat untuk mengakses internet serta berbelanja secara online.
3. E-Commerce Lebih Praktis dan Menjangkau Cakupan yang Lebih Luas
Faktor lain yang juga mempengaruhi perkembangan e-commerce di Indonesia adalah kemudahan yang diberikan oleh bisnis online dibanding toko offline. Apalagi transaksinya dianggap lebih mudah, termasuk proses berbelanja yang lebih menghemat waktu. Hal ini dianggap lebih praktis, cepat dan mudah karena berbagai mobilitas masyarakat Indonesia (khususnya Jakarta dan kota besar) yang umumnya dipadati dengan berbagai aktivitas.
Lebih dari itu e-commerce juga memiliki cakupan yang lebih luas, bisa di akses oleh seluruh masyarakat di Indonesia bahkan di dunia. Hal ini yang mendasari bahwa e-commerce bisa menjadi primadona dan menjadi pilihan banyak orang.
E-commerce menjadi industri yang perkembangannya dianggap sangat cepat. Ini tentunya tidak lepas dari faktor pendukung di atas yang membuat e-commerce di Indonesia menjadi menarik di mana masyarakat terjun di dalamnya.
Namun tentu saja, kita harus selalu berhati-hati dalam aktivitas belanja online karena akan selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungan semata hanya untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, kunci dari semua ini adalah kewaspadaan dan ketelitian dalam memilih.
Dampak positifnya, yaitu :
1. Revenue Stream (aliran pendapatan) baru yang mungkin lebih menjanjikan yang tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.
2. Dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar).
3. Menurunkan biaya operasional(operating cost).
4. Melebarkan jangkauan (global reach).
5. Meningkatkan customer loyality.
6. Meningkatkan supplier management.
7. Memperpendek waktu produksi.
8. Meningkatkan value chain (mata rantai pendapatan).
2. Dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar).
3. Menurunkan biaya operasional(operating cost).
4. Melebarkan jangkauan (global reach).
5. Meningkatkan customer loyality.
6. Meningkatkan supplier management.
7. Memperpendek waktu produksi.
8. Meningkatkan value chain (mata rantai pendapatan).
Dampak negatifnya, yaitu :
1. Kehilangan segi finansial secara langsung karena kecurangan. Seorang penipu mentransfer uang dari rekening satu ke rekening lainnya atau dia telah mengganti semua data finansial yang ada.
2. Pencurian informasi rahasia yang berharga. Gangguan yang timbul bisa menyingkap semua informasi rahasia tersebut kepada pihak-pihak yang tidak berhak dan dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi si korban.
3. Kehilangan kesempatan bisnis karena gangguan pelayanan. Kesalahan ini bersifat kesalahan non-teknis seperti aliran listrik tiba-tiba padam.
4. Penggunaan akses ke sumber oleh pihak yang tidak berhak. Misalkan seorang hacker yang berhasil membobol sebuah sistem perbankan. Setelah itu dia memindahkan sejumlah rekening orang lain ke rekeningnya sendiri.
5. Kehilangan kepercayaan dari para konsumen. Ini karena berbagai macam faktor seperti usaha yang dilakukan dengan sengaja oleh pihak lain yang berusaha menjatuhkan reputasi perusahaan tersebut.
6. Kerugian yang tidak terduga. Disebabkan oleh gangguan yang dilakukan dengan sengaja, ketidakjujuran, praktek bisnis yang tidak benar, kesalahan faktor manusia, kesalahan faktor manusia atau kesalahan sistem elektronik.
2. Pencurian informasi rahasia yang berharga. Gangguan yang timbul bisa menyingkap semua informasi rahasia tersebut kepada pihak-pihak yang tidak berhak dan dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi si korban.
3. Kehilangan kesempatan bisnis karena gangguan pelayanan. Kesalahan ini bersifat kesalahan non-teknis seperti aliran listrik tiba-tiba padam.
4. Penggunaan akses ke sumber oleh pihak yang tidak berhak. Misalkan seorang hacker yang berhasil membobol sebuah sistem perbankan. Setelah itu dia memindahkan sejumlah rekening orang lain ke rekeningnya sendiri.
5. Kehilangan kepercayaan dari para konsumen. Ini karena berbagai macam faktor seperti usaha yang dilakukan dengan sengaja oleh pihak lain yang berusaha menjatuhkan reputasi perusahaan tersebut.
6. Kerugian yang tidak terduga. Disebabkan oleh gangguan yang dilakukan dengan sengaja, ketidakjujuran, praktek bisnis yang tidak benar, kesalahan faktor manusia, kesalahan faktor manusia atau kesalahan sistem elektronik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar